Dari semua, yang begitu seharusnya.
Semua beriringan, menatap kesurga melalui banyak dosa.
Semua ada, dalam semesta hal itu bukan lagi tidak mungkin. Sang pencipta lah yang berkuasa.
Semua berdoa, ketika luluh atas dosa mereka-mereka yang lupa akan kuasa semesta.
Semua tak ada, orang sakit tapi engkau menyakiti hatinya untuk menjadikanmu lebih sombong diatas tanah kuburanmu sendiri.
Semua hening, murkaNya kau abaikan.
Semua tertawa, untuk orang yang mengagung-agungkan diri sendiri atas penindasan hati ke semua.
Semua menangis, untuk takut diadili di lapangan yang luasnya hampir mencakup hitam semesta.
Semua menggigil, harusnya dari awal dunia api diciptakan dengan manfaat sesungguhnya. Bukan untuk disembah.
Semua hari hitam, tak ada kicauan burung yang lari tunggang-langgang dari atas pepohonan yang tinggi.
Semua ringan, bagai kapas-kapas putih yang terkena tiupan dari mulut-mulut malaikat yang bekerja.
Semua memohon, tanpa ada suara diam manusia merengek.
Semua keberuntungan, hilang dan itu menjadi tak mutlak lagi.
Semua bergetar, tanpa arahan yang jelas dan gravitasi seakan bayi yang baru saja dilahirkan.
Semua meninggal, dengan mulutNya tak bisa difikirkan Dia dengan sekali firman.
Semua yang timbul berbalik, mataharimu menyapa engkau dari arah itu.
Semua tertutup, kedua tangan jauh diatas kepala-kepala manusia yang ingin memohon.
Semua rindu, hilang dan lupa akan kekasih terdekatnya. Mereka ingin menjadikanMu kekasih.
Semua bersama, memohon untuk imam pembawa kepercayaan didekat mereka-mereka yang berlumur dosa.
Semua putus asa, bagaimana tidak ? Dia yang berkuasa atas dunia dan akherat.
Semua membutuhkamu, wahai kekasihku dan engkaulah pedomanku.
Semua inginkan engkau kembali, kekasih yang luhurmu membuat mata ini selalu berlinang mengingatmu.
Semua untukmu, kekasihku yang harusnya aku panggil engkau dengan sebutan yang lebih mulia.
Semua mengingatmu, meski terpecah belah untuk hal yang engkau ajarkan.
Semua habis, kini ucap kata yang membenarkan justru menjadi neraka-neraka yang baik.